Tuesday, April 11, 2006

"Penyumbatan ?!"

"Penyumbatan ?!"
``````````````````````
Sering kata birokrasi menjadi sesuatu yang mencemaskan, menyebalkan dan membosankan banyak masyarakat khususnya di tempat kita (dimana?). Padahal birokrasi paling tidak membuat semua aktivitas menjadi accountable (cf. [1] dan [2] ), seharusnya !

Lihat pengalaman di tempat kita yang lain, TODAI:Tokyo Daigaku, sebuah acara "dies natalis" dengan nama 'Go Gatsu Sai' mempunyai aturan-aturan prosedur yang baku dan jelas. Para mahasiswa Indonesia yang tergabung dalam PPI (Persatuan Pelajar Indonesia) di TODAI harus mendaftar enam bulan sebelumnya. Briefing dilakukan lima bulan sebelumnya. Sisa waktu sudah dipakai untuk 'setting' acara dan tempat.

Pengalaman di tempat lain yang sama. Ketika beberapa mahasiswa akan membentuk organisasi kemahasiswaan, mereka mendatangi wakil dekan yang berurusan dengan kemahasiswaan di fakultasnya. Dari pertemuan itu, terjadi kesepakatan tentang ijin dibolehkannya membentuk organisasi dimaksud. Dijanjikanlah bertemu pekan depannya, dimana mereka mendatangi kantor wakil dekan (WD) tersebut dan diterima tidak hanya oleh WD tapi juga oleh dua pegawai fakultas. Dijelaskan oleh WD bahwa menurut dua orang stafnya itu organisasi yang akan dibentuk menyalahi undang-undang bahkan konstitusi. Kedua staf tadi rupanya sudah memfotokopi pasal-pasal yang dimaksud dalam tulisan kanji dan bahasa inggris, lalu menjelaskannya.

Pada dua kejadian diatas, terlihat bahwa birokrasi itu menolong sesiapa untuk kelancaran kegiatan dan agar tidak terjerat hukum. Menariknya, seorang pejabat atas akan tergantung pada masukan pejabat dibawahnya bahkan tenaga pendukungnya (supporting staff) ! Disitulah letak accountable sebuah aktivitas, bahwa komitmen dibangun dengan terbuka dan tidak ditutup-tutupi serta tidak satu-arah. Birokrasi yang tidak accountable menimbulkan banyak persepsi, ketidakpastian, keterlambatan dan pemborosan, bahkan "suap-menyuap" !

Terkadang, terjadi pertentangan dibenak penulis. Kedua contoh diatas itu dapat disebut suatu kondisi ideal ataukah sebaliknya ? Mari ambil contoh berikut. Tersebutlah sebuah berita [3] tertanggal 20-03-2006 , dimana diumumkan bahwa tgl.31 Maret 2006 sebagai hari libur bersama. Pada alinea terakhir berita itu menyebutkan "...Penerapan cuti bersama di lingkungan pendidikan, kata Sutedjo, akan diatur oleh Menteri Pendidikan Nasional...". Ternyata dari informasi yang didapat sampai dengan jum'at tgl. 24 Maret 2006 siang, Diknas belum mendapat surat/SK dari Menpan (?). Sudah bisa diduga, informasi yang turun dari Diknas akan tidak menjangkau banyak sekolah maupun perguruan tinggi dan tidak menjadwal ulang tgl. 31 Maret sebagai hari libur bersama tahun 2006.

Ataukah, begini,
"kedua contoh awal diatas itu kan... untuk universitas... untuk pemerintahan sih... Tidak begitu !".
Entahlah, penulis ini sedang bermimpi atau malah sedang dibangunkan tiba-tiba ?!

Ganesa, 240306
wedykun

Acuan:
[1]
http://www.soulprogress.com/html/Glossary/
AccountabilityGlossary.html
[2]
http://www.allwords.com/query.php?SearchType=3&Keyword
=Accountability&goquery=Find+it!&Language=ENGYour
[3] http://www.tempointeraktif.com/hg/nasional/2006/03/20/
brk,20060320-75343,id.html

Thursday, December 22, 2005

neo zholim

manakala keimanan berjinjit diantara kemusut
nurani menjerit tubuh melesu
ada apa lagi...

selimut sedikit demi sedikit tidak lagi menelungkup
seekor udang pun mulai tak mampu sembunyi dibalik batu lagi
tampak...
pusingan rolet dan bubuk putih
berbaur diantara lencana dan keseragaman

manakala keimanan berjinjit diantara kemusut
ketidakadilan dan kesabaran diganggu
hanya DIA kuatkan tuktetap berjinjit
meski harus kelilingi bumi

terompah-terompah bersol rupiah tebal
injaki kepala-kepala manusia yang tersungkur
meski bersimpuh lumpur disungkur
berjinjit tetap berjinjit...
harap tuk menapak ajeg

manakala keimanan berjinjit diantara kemusut
tidak... tak rela tuk ikuti zolim dan kusut
kesabaran tak berbatas hiasi jiwa
kelak keadilan kan tiba

keimanan... berjinjit diantara kemusut

ganesa, 211105
wedykun

Monday, December 19, 2005

Koruptor: Manusia Terganggu [jiwa] (1)

Koruptor: Manusia Terganggu [jiwa] (1)

Terganggu bisa berarti Terusik dan semacamnya. Namun demikian dalam konotasi kejiwaan, istilah Terganggu itu mempunyai pengaruh seakan-akan tidak disadari oleh Yang bersangkutan. Ketergangguan itu bisa menyerap kedalam jiwanya karena memang jiwanya itu membuka pintu atau celah untuknya.

Pintu/Celah itu terdiri dari bingkai kemewahan, kemalasan dan ketidaksabaran serta ketidaksyukuran. Kemewahan membingkai Celah hingga manusia itu berkhayal dengan dengus nafas yang memburu. Kemalasan menghiasi Celah dengan akibat seseorang berkhayal dan melakukan tindakan dengan "mata terpejam" dan "berbaring" saja. Ketidaksabaran ini paling tidak secara khusus membuka bingkai lainnya yaitu kemewahan dan kemalasan. Belum lagi, provokasi lingkungan atas ketidaksabaran akan mempercepat pertumbuhan bukaan-celah.

Oleh sebab itu, pola pikir para manusia terganggu itu (baca:koruptor) akan sulit dan bahkan tidak pernah bisa dipahami oleh manusia normal. Apalagi kalau dikaitkan hal terakhir, ketidaksyukuran. Ketidaksyukuran bukan berarti anti-kemapanan. Syukur disini bukan berarti "nrimo thok...". Syukur ini menyangkut pada kesadaran akan fungsi manusia dalam kehidupan di lingkungannya. Fungsi-fungsi dari setiap manusia dalam kehidupannya akan berbeda satu-sama lain. Hal lain yang sering terlupakan oleh manusia pada umumnya, Syukur itu menyangkut hal material (tangible) dan nonmaterial (intangible). Ketidaksyukuran akan tumbuh ketika hal nonmaterial tersingkirkan pada dirinya. Ibarat darah putih, nonmaterial itu merupakan faktor pembunuh penyakit jiwa.

Mengapa nonmaterial (intangible) aset dari dalam kejiwaan manusia harus dipertahankan? Mari kita hilangkan rasa sedih dan gembira dari jiwa kita, bisakah? Sedih dan gembira itu sudah pasti merupakan suatu hal yang nonmaterial. Namun demikian, secara fisik akan tampak di wajah apabila sedih dan gembira, lalu untuk yang tidak nampak bagaimana? Disitulah kekuatan potensi nonmaterial, bayangkan potensi yaitu Khawatir/Kuatir, itu kadang tidak muncul secara fisik pada wajah misalnya. Padahal khawatir/kuatir tadi, dalam proporsinya, menjadi potensi yang sangat hebat untuk mencegah terjadinya ketergangguan sang-jiwa dengan jenis penyakit korupsi.

Sebagai ilustrasi, untuk sedikit membahas masalah pintu/celah dengan bingkai-bingkainya. Pada tanggal 5 oktober 2005 kemarin, secara global sebuah virus komputer yang bernama W32.Rontokbro@mm merajalela. Virus itu kelihatannya dibuat oleh orang yang beribu bahasa Indonesia dengan "embel-embel" anti-korupsi/anti-narkoba/dst. Virus itu memasuki komputer dengan melalui Celah SMTP. SMTP itu akan kuat kalau pertahanan si-komputer yang diserang sudah di update antivirus pada tanggal 5 oktober itu juga. Kalau belum dilakukan antivirus updating, lewat celah itulah virus berkembang biak sangat cepat dalam hitungan menit saja dan komputer akan paused tidak bisa difungsikan ! Tidak hanya itu, sharing folder yang tadinya tidak allow users to change my files dibuat secara diam-diam untuk membolehkannya. Akhirnya, komputer itu tetap terbuka untuk diinfeksikan oleh komputer lain (dalam network yang sama) yang sudah terkena virus itu. Artinya virus itu mengajak secara "rame-rame" komputer-komputer yang pernah terinfeksi untuk memungkinkan diinfeksikan kembali secara diam-diam melalui celah baru yang yaitu sharing-sharing folders yang terbuka.

Mengapa dengan ilustrasi virus komputer ? (bersambung)

Eselonism: Kemalasan Terstruktur

Eselonism: Kemalasan Terstruktur
```````````````````````````````
Eselon, eselon sebuah jabatan struktural memang sangat diperlukan dalam tatanan birokrasi. Hanya saja manakala Eselon yang menjadi, -- sesuatu tempat yang berjumlah tidak efisien, juga sebuah keharusan atau hak bagi seseorang yang sudah meniti karir sebelum-dibawahnya, bahkan menjadi posisi yang feodalistik--, akan dan bisa berubah mengental dalam “isme” baru bernama eselonism.

Di sisi lain, intitusi-institusi pemerintah tetap memerlukan birokrasi, namun eselonism tentu tak pantas menjadi jiwa dari kelembagaan-kelembagaannya. Institusi tersebut memerlukan fondasi kokoh ditangan para “penduduk” Eselon. Pengemban pada eselon sudah seharusnya sosok yang ingin terus belajar (bahkan dalam ‘life-long learning’) untuk aspek Penguatan Dasar dan Pengembangan institusi pemerintah (KUATSAR dan KEMBANG institusi, disingkat lagi menjadi KKR).

Lalu permasalahan eselonism ada dimana? Ilustrasi, ketika golongan kepangkatan tertentu menjanjikan untuk meniti posisi karir eselon, padahal kepangkatan yang diraih sebelumnya tanpa tolok ukur yang jelas dalam unsur KKR! Belum lagi iklim Belajar di dalam institusi banyak yang sudah hilang, padahal b-e-l-a-j-a-r merupakan adukan-fondasi dalam KKR. Ilustrasi lain, para pekerja institusi pemerintah di tempat itu masih mendapat insentif yang sama dengan sesiapa yang tidak “berkeringat” dalam pekerjaannya itu sendiri. Akhirnya, munculah keengganan bahkan kemalasan untuk meneliti secara terstruktur ! Akhirnya, iklim eselonism itulah yang mengkristal karena tampuk eselon itu juga hanya satu-satunya “harapan”.

Berat memang, perlu Transformasi, juga !

Ganesa, 081104.
wedykun

Lulusan Buruk ?!

Lulusan Buruk ?!
```````````````````````

Topik mengenai buruknya lulusan perguruantinggi (PT) cukup ramai pada milis ini. Ketika mencoba menguraikan permasalahan itu, beberapa pendapat memunculkan problema pada 'input' mahasiswanya dan/atau terletak pada proses sistem akademik di lingkungan PT.Manakala 'input' dianggap menjadi penyebab turunnya kualitas, tentunya _proses_ tidak bisa menjadi sesuatu proses yang jumud, misalnya dari tahun tujuhpuluhan sampai sekarang proses belajar-mengajar tidak berubah. Selain institusi, dirigen orkestra dalam suatu proses belajar-mengajar itu tidak lain adalah Pengajarnya. Bukankah seorang Guru itu akan bermanfaat apabila mengajar kepada Murid yang tidak tahu bahkan bodoh menjadi seorang yang pandai ?!Kelihatannya hal diatas lah yang terjadi. Logikanya, apabila input tidak lebih buruk mengapa output buruk ?

Itulah sebabnya proses dan proses di sistem akademik PT lah yang menjadi masalahnya. Selain masalah Pengajar dengan Cara Mengajarnya, tentunya institusi juga sangat ditunggu untuk menopang sarana dan prasarana agar para dirigen tadi menjadi lebih berkonsentrasi dan all out dalam proses yang diperlukan. Dengan demikian, baik Institusi dan Pengajar memang harus melangkah bersama dan tidak boleh ada yang tertinggal. Kata kuncinya adalah kolektivitas.

Individu-individu di PT (sekarang ini, khususnya pada 5-PT negeri) sudah punya kualitas yang bolehlah dianggap mumpuni. Namun, kelihatannya, mungkin, kualitas bekerjasama kita mungkin pada taraf rata-rata kalau tidak disebut dibawah garis rerata.Manakala, seseorang menonjol itu tentu karena pada hakikatnya orang lain membuka peluang baginya baik langsung maupun tidak langsung.

Seorang Pengajar tidak akan nyaman memberi kuliah apabila ruangan tidak tersapu bersih oleh Petugas penyapu lantai, para Petugas yang menyediakan kapur atau spidol. Para Petugas tadi akan menghadapi kacak-pinggang para Dosen apabila semua tidak seperti yang diinginkan. Padahal, sudahkah institusi memperhatikan para Petugas tadi yang tentu saja mereka manusia yang secara fisik dan kesehatan tidak selalu baik ! Kalau persoalan pada kualitas Mereka yang kurang, tentunya kewajiban kita semua mengangkat kualitas bukan dengan kacak-pinggang. Hal-hal terakhir ini hanya ilustrasi saja.

Sedikit, tulisan ini masih ingin menyentuh proses. Ketika seorang mahasiswa terkena di dropout (DO). Pertanyaan harusnya muncul dibenak kita, sudahkah kita sebelumnya berusaha untuk mengangkat mereka dari keterpurukan? Kembali pernyataan
"Bukankah seorang Guru itu akan bermanfaat apabila mengajar kepada Murid yang tidak tahu bahkan bodoh menjadi seorang yang pandai ?!";
Ataukah memang

" biarkanlah yang bodoh itu resiko yang harus ditanggung olehnya, apaboleh buat !".


Perubahan sedang menghadang kita.

ganesa,260805,wedykun

Kuburan Massal (Tsunami)

{.............}

'Anyhow', seperti yang tertulis pada subjek, "kuburan massal" itu dipadankan pada tempat yang bernama banda-aceh. Bukan atas kejadian yang terakhir, namun untuk kedepan, katakanlah 100 tahun kedepan. Dari kondisi topografi, banda-aceh selain sebagai delta juga merupakan dataran terendah di wil. aceh utara.

Dalam koordinasi-koordinasi di itb, dep. khususnya, saya selalu berargumentasi bahwa kemungkinan terjadinya tsunami kembali akan melanda banda-aceh dalam fasa gempa ratusan tahun. Sehingga rekonstruksi batas "pemilikan" penduduk kota banda-aceh bukan untuk mengembalikan pemukiman di tempat semula, namun untuk proses relokasi pemukiman ke wilayah dengan topografi lebih tinggi secara gradual. Bisa saja, di wilayah pantai dibangun benteng-benteng pemecah ombak, namun itu hanya untuk mengurangi pengaruh kehancuran akibat tsunami. Artinya, 'site planning' di banda aceh harus benar-benar secara apik dan teliti disusun dan disiplin diterapkan. Kalaupun ingin tetap ada bangunan, bangunan-bangunan dengan konstruksi kuat (contoh Mesjid Raya Banda Aceh) sajalah yang bisa dibangun di dataran itu. Memang, resistensi warga aceh sendiri yang selalu mengkonotasikan relokasi dengan penghancuran budaya aceh perlu diantisipasi dan dicarikan solusinya.

Sebenarnya, saya sudah merasa cukup menyampaikan di lingkungan itb saja, namun kelihatannya semangat membantu warga indonesia begitu besar, sehingga faktor 'site planning' dengan tidak membuat "kuburan massal" semakin dikesampingkan. Demikian Boss! kita harus belajar dari Nabi Nuh AS yang menyiapkan ratusan tahun untuk menghadapi tsunami di masanya, waLlohu a'lam.


Sukses Boss ! WasSalam.
wed.

Otokritik: Meluluskan Pengangguran

----- Original Message -----
From: wedyanto_k
To: dosen@gd.itb.ac.id ; List tertutup ; gd-l@itb.ac.id
Sent: Tuesday, November 23, 2004 8:46 AM
Subject: [Dosen GD] Otokritik: Meluluskan Pengangguran

Otokritik: Meluluskan Pengangguran
```````````````````````````````````````
Pada hari pertama masuk setelah liburan akademik, 22 Nopember 2004, diselawaktu bersilaturahmi diantara kami, muncul istilah diatas. Ungkapan “Meluluskan Pengangguran” terbetik dari ucapan beberapa Alumni yang bertemu dengan salahsatu dari kami. Isu itu, yi. Isu tentang ujian saringan PNS, memang hangat selain isu-isu semasa cuti-bersama kemarin.

Isu tadi menyangkut tidak lain seperti masalah klasik yang berdengung diantara kita “IP Rendah dibawah Persyaratan Penerimaan PNS”. Namun, ada juga Yang berpendapat “
Mengapa harus jadi PNS? Kerja saja di swasta yang memang tidak memberlakukan aturan itu kan... terbuka peluang lebih besar?”.
Pendapat ini dilawan pendapat lainnya yang mengatakan
“Alumni kita (perguruantinggi)harus ada yang terlibat dalam pemerintahan tidak hanya swasta, untuk pengambilan keputusan di negeri ini”
. Belumlagi pendapat “IP rendah itu semacam ‘dosa turunan’… tertutup peluang bekerja ataupun sekolah lagi karena sebab itu…”. “Wuihhhh…”.

Sebenarnya, persyaratan itu memang diberlakukan secara ketat sekarang ini tidak seperti sepuluh tahun sebelumnya. Walaupun, kita bisa saja heran tentang usaha apa yang telah diperbuat para Alumni yang PNS sehingga mereka seakan menutup peluang para Adik-adiknya untuk bisa memasuki dunia pekerjaan mereka (?). “Yaahhh…”

Entah permasalahan yang harus diperbaiki dan dicarikan solusi sebenarnya ada dimana dan pada siapa? Mahasiswa? Dosen? Alumni?

Kesalahan pada Mahasiswa bagi para Dosen di I-T-B (juga perguruantinggi lainnya) sangatlah banyak, banyak dan “bejibun”. Padahal, kalau benar pendapat seorang Peserta milis yang melontarkan isu bahwa “..
Gimanapun, ini merupakan salah satu akibat dari mhs yang terlalu ditekan kemandirian-nya sehingga terbentuk jiwa ‘introvert’ saat kejiwaan labil…”,
tidak hanya ingin bunuh diri tapi juga banyak terjadi konsentrasi menyerap ilmu di kelas pun akan sering terganggu (!). Selanjutnya, berujung pada jurang pengetahuan, belum ilmu, antara Dosen dan Mahasiswa semakin lebar. Akhirnya, Dosen memberi ultimatum nilai “merah” bagi mereka. “Woowww…”.

Lalu harus bagaimana? Apakah ungkapan “Meluluskan Pengangguran” hanya isapan jempol saja ?!

Ganesa, 231104.
wedykun

Dosen sebuah profesi ?

----- Original Message ----- From: "edi santosa" <edisang2002@yahoo.com>To: <ppitodai@yahoogroups.com> Pak Wedyanto, Menarik juga isi tulisan Pak Dedy Muhtadi (jadi ingat Ibu Tien Muhtadi). ..........dst..dst..(maaf saya hapus... sudah disimak..) with best regards Edi ------------------------------------

Betul Mas dan Rekan di Milis ini.

Kebetulan Saya dan beberapa Rekan merasa mendapat suntikan baru dengan tulisan itu (selain saya tahu pak Dedy, karena dulu tetangga Ayah saya).Beberapa minggu sebelumnya, saya dan Rekan-rekan menyampaikan semua masalah tentang Mahasiswa di depan kelas kami, persis seperti yang diungkapkan oleh pak Dedy tentang mahasiswa. AlhamduliLlah, dengan adanya tulisan itu dan di fotokopi lalu ditempel di papan-papan pengumuman, saya bertanya di kelas
"Ada yang sudah membaca artikel Kompas yang ditempel di papan-papan pengumuman?... sama dengan apa yang saya sampaikan sebelumnya bukan ?!".
Mereka yang sudah membacanya mengangguk-angguk (meskipun bisa saja ABS).

Lalu komentar beberapa Dosen tentang sikap Dosen persis seperti yang diungkapkan Mas Darmawan. Namun, beberapa dari kami terusterang hanya bisa diam seribubahasa dan seseorang dari kami berkata
"wah... alasan klasik...".
Maaf saya petik pendapat rekan saya bukan menyepelekan pendapat diatas, tapi alasannya tertulis dibawah.

Setelah ditanyakan mengapa dia berpendapat alasan klasik? Dijawabnyalah,
"Kalau mau kaya jangan jadi Dosen... jadi Dosen memang harus banyak bersedekah dalam segala aspek... lagipula Tuhan tidak diam dan tidak menyengsarakan hambaNYA untuk memberi rizki... istilah sundanya 'rejeki moal pahili'... tapi penghasilan akan dibawah penghasilan konglomerat tentu... saya sanggup jadi konglomerat kok.... saya tahu cara menjadi konglomerat..relasi keluarga saya banyak... tapi ini pilihan hidup saya.... ya.. sebagai Dosen....lagipula mau apalagi? wong.. yang memerintah di pemerintahan memang mikirnya masih begitu... tidak mengerti fungsi Guru dan Dosen... ya... kita sedikit-sedikitlah paling tidak di depan kelas mengubah persepsi itu.. suatu saat para mahasiswa itu akan memimpin bangsa ini...insyaAlloh...nah... itu yang hanya bisa kita lakukan dan ikhtiarkan...".
Begitu, serba-serbi sebenarnya apa yang terjadi di PT-PT (PT:perguruantinggi), khususnya pendapat tentang persepsi beberapa Dosen di tanah air.

Yours,wed